Xu Jiayin, Namanya dulu terpampang di mana-mana. Di papan reklame gedung-gedung mewah yang belum selesai dibangun, di logo tim sepak bola kelas dunia yang ia beli untuk mempertegas kebesarannya, dan di daftar orang-orang terkaya di Asia yang pernah memuat namanya di posisi teratas. Hui Ka Yan — atau Xu Jiayin dalam bahasa Mandarin — adalah simbol paling sempurna dari kemewahan era booming properti China.
Kamis, 20 Agustus 2026, babak itu resmi ditutup di ruang sidang Pengadilan Rakyat Menengah Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, China.
Pengadilan menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepada Hui Ka Yan, 67 tahun, pendiri China Evergrande Group. Seluruh harta pribadinya disita negara. Dua entitas utama perusahaannya — Evergrande Group dan Evergrande Real Estate — didenda total lebih dari 2,3 miliar dolar Amerika Serikat. Pengadilan menyatakan kejahatan yang dilakukan Hui "sangat luar biasa besar, keadaannya sangat memberatkan, dan dampaknya luar biasa buruk."
Hui menghadapi delapan dakwaan sekaligus: penyalahgunaan dana perusahaan, penipuan dalam penggalangan dana publik, penerimaan simpanan publik secara ilegal, pemberian pinjaman secara ilegal, penerbitan sekuritas secara curang, hingga suap. Ia mengaku bersalah atas seluruh dakwaan itu pada April 2026, empat bulan sebelum vonis dijatuhkan.
Inti kejahatan yang ditetapkan pengadilan adalah manipulasi laporan keuangan dalam skala yang sulit dibayangkan. Evergrande menggelembungkan aset perusahaan dan menyembunyikan kewajiban utang yang sesungguhnya melampaui 300 miliar dolar AS — angka yang menjadikan Evergrande sebagai pengembang properti dengan utang terbesar di dunia. Pendapatan perusahaan untuk tahun 2019 dan 2020 diduga telah digelembungkan hampir 80 miliar dolar AS. Selama bertahun-tahun, semua itu disajikan kepada publik, investor, dan regulator seolah bisnis berjalan sehat.
Krisis mulai meledak pada 2021 ketika otoritas China mengetatkan aturan pinjaman bagi pengembang properti. Evergrande tidak bisa membayar utang luar negerinya dan terpaksa gagal bayar. Dampaknya menjalar ke seluruh sektor properti China, menghantam ratusan ribu pembeli rumah yang sudah membayar lunas tapi apartemennya tidak pernah jadi, serta mengguncang pasar keuangan global. Bursa Efek Hong Kong akhirnya menghapus saham Evergrande pada Agustus 2025, dan perusahaan itu kini dinyatakan bubar.
Perjalanan Hui ke ruang sidang itu bukan tiba-tiba. Ia mulai diawasi polisi China sejak September 2023. Sebelumnya pada 2024, regulator pasar modal China sudah melarangnya seumur hidup dari pasar sekuritas dan menjatuhkan denda puluhan juta yuan. Tapi semua itu hanya pemanasan dari vonis yang datang hari ini.
Dari anak kampung di Kabupaten Taikang, Provinsi Henan, yang membangun kerajaan properti senilai ratusan miliar dolar, hingga berakhir dengan borgol di ruang sidang Shenzhen — kisah Hui Ka Yan menjadi cermin dari era ketika China membiarkan ambisi tumbuh tanpa batas, dan tagihan akhirnya datang dengan cara yang tidak ada yang benar-benar siap menanggungnya.
#Evergrande #HuiKaYan #EkonomiChina #KrisisProperti #DasarDesusCerdas