Jakarta, 7 Juni 2026 – Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran terhadap kenaikan biaya impor energi dan potensi tekanan pada harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Data pasar menunjukkan rupiah sempat menyentuh kisaran Rp18.000–Rp18.048 per dolar AS pada awal Juni 2026.
Indonesia masih berstatus sebagai negara net importir minyak, sehingga sebagian besar kebutuhan minyak mentah dan BBM harus dipenuhi melalui impor. Karena transaksi impor dilakukan menggunakan dolar AS, setiap pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya pengadaan energi nasional. Produksi minyak dalam negeri saat ini diperkirakan hanya sekitar 650 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.
Pakar ekonomi menilai bahwa tekanan terhadap harga BBM terutama akan dirasakan pada BBM nonsubsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Selain faktor kurs, harga minyak dunia yang masih berada di atas asumsi APBN 2026 juga menambah beban biaya impor energi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, sebelumnya menyatakan pemerintah sedang mengkaji dampak pelemahan rupiah terhadap subsidi energi dan kebijakan harga BBM. Pemerintah juga menegaskan bahwa BBM subsidi tidak akan serta-merta mengalami kenaikan karena masih menjadi bagian dari kebijakan perlindungan masyarakat.
Ekonom memperingatkan bahwa apabila kurs rupiah bertahan di atas Rp18.000 per dolar AS dalam jangka panjang, pemerintah dan badan usaha energi akan menghadapi dua tekanan sekaligus, yaitu mahalnya harga minyak dunia dan tingginya biaya pembelian dolar untuk impor energi. Kondisi tersebut dapat memperbesar beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN.
Selain sektor energi, pelemahan rupiah juga berpotensi mendorong kenaikan harga barang lain yang bergantung pada bahan baku impor, termasuk sektor transportasi, logistik, manufaktur, dan pangan. Dampak akhirnya dapat berupa kenaikan biaya hidup masyarakat apabila tekanan kurs berlangsung dalam waktu yang lama.
Pemerintah bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia disebut terus memantau perkembangan pasar keuangan dan nilai tukar guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
Kesimpulan:
Jika rupiah bertahan di atas Rp18.000 per dolar AS, kemungkinan penyesuaian harga BBM nonsubsidi akan semakin besar. Namun untuk BBM subsidi, keputusan tetap bergantung pada kebijakan pemerintah dan kemampuan APBN menanggung tambahan beban subsidi energi.